Hai, kenalin gua Mikiya. Gua seorang storyteller yang hobi nangkring ke sana kemari buat nemuin cerita-cerita baru yang random. Dan hari ini, radar gua mengarah ke sesuatu yang agak beda di Bali.
Kalau kebanyakan orang ke Sukawati cuma buat belanja baju barong atau nawar lukisan di pasar seni, gua justru melipir menjauh. Gua mencari sesuatu yang sunyi, yang nggak berisik sama suara tawar-menawar harga.
Motor gua arahkan ke jalanan kecil di tengah hamparan sawah hijau. Di sanalah gua menemukan gerbang masuk ke dunia lain, Setia Darma House of Mask and Puppets.
Bukan Museum Biasa
Jujur, gua awalnya skeptis sama kata “museum”. Bayangan gua pasti gedung kaku, bau apek, dan ngebosenin.

Tapi tempat ini mematahkan semua stereotip itu. Begitu masuk, gua disambut oleh halaman luas yang asri banget. Pohon-pohon besar menaungi beberapa rumah Joglo (rumah kayu tradisional Jawa) yang berdiri anggun.
Nggak ada loket tiket yang ribet. Masuk ke sini itu gratis (cuma donasi sukarela). Rasanya kayak bertamu ke rumah seniman tua yang introvert dan misterius, bukan ke tempat wisata komersial.
Baca Juga : Taman Festival Bali: Menikmati Reruntuhan ‘Kota Hantu’ di Padang Galak
Diawasi Ribuan Mata
Gua masuk ke salah satu Joglo, dan di situlah “teror” artistik itu dimulai.
Di dalam ruangan yang remang-remang dan beraroma kayu tua itu, ribuan topeng digantung rapi. Ada topeng Barong Bali yang megah, topeng suku pedalaman Afrika yang primitif, sampai topeng-topeng teater dari Jepang dan Meksiko.

Konon, koleksi di Setia Darma House of Mask ini jumlahnya lebih dari 1.000 item.
Gua berjalan pelan menyusuri lorong. Rasanya aneh. Gua sendirian (karena tempat ini emang hidden gem yang sepi), tapi gua merasa nggak sendirian. Seolah-olah, ribuan mata dari topeng-topeng itu hidup dan mengawasi gerak-gerik gua. Ada yang tersenyum jenaka, ada yang melotot galak, ada yang ekspresinya datar tapi bikin merinding.
Ini bukan sekadar kayu yang diukir. Gua merasa setiap topeng punya “nyawa” dan ceritanya masing-masing.
Baca Juga : Bukan di Jawa Timur, Ini Candi Gunung Kawi Tampaksiring: “Indiana Jones”-nya Bali
Hening yang Mahal
Satu hal yang bikin gua betah berlama-lama di sini adalah keheningannya.

Nggak ada turis yang sibuk bikin konten TikTok joget-joget. Nggak ada suara musik jedag-jedug. Cuma ada gua, ribuan wajah topeng, dan suara angin sawah.
Di Setia Darma House of Mask, gua belajar bahwa Bali bukan cuma soal pantai dan pesta. Di sini, di sudut Sukawati yang tersembunyi, ada dedikasi luar biasa untuk melestarikan wajah-wajah budaya dari seluruh dunia.
Baca Juga : Wisata Kota Denpasar: Nyasar ke Gajah Mada dan Menemukan Bali yang Asli
Epilog: Pulang dengan Inspirasi
Gua keluar dari area museum dengan perasaan takjub. Gua baru aja “keliling dunia” lewat topeng, tanpa harus beli tiket pesawat.

Buat lo yang lagi di Bali dan pengen cari spot yang tenang, artistik, dan beda dari biasanya, cobain deh ke sini. Lokasinya nggak jauh dari Pasar Seni Sukawati. Siapin kamera, dan siapin mental buat ditatap oleh ribuan wajah yang diam tapi “bicara”.
Baca Juga : Merayakan Tahun Baru 2026 Bareng Jagung Bakar dan Kembang Api Rakyat di Sanur
Tips Biar Nggak Nyasar
Lokasinya emang agak “nyempil” di jalan Tegal Bingin, Sukawati. Mending pake Google Maps dan perhatikan plang kecilnya biar nggak kelewatan.
Karena Sukawati itu lokasinya strategis di tengah-tengah (antara Ubud dan Sanur), lo punya banyak pilihan tempat istirahat. Mau yang dekat pantai Sanur atau yang adem di Ubud?
Cek rekomendasi hotel dan vila terbaik di area Gianyar lewat Seindo Travel.
Sampai ketemu di cerita random Mikiya selanjutnya!