ootd skena

Cerita Pemburu “Kain Kafan” Terunyan Buat OOTD Skena

Langkah kaki Joko terasa agak berat saat turun dari perahu kayu yang membawanya membelah Danau Batur. Mahasiswa tingkat akhir asal Solo ini sengaja menghabiskan sisa libur semesterannya di Bali dengan agenda yang agak melenceng dari turis kebanyakan. Di saat temannya yang lain sibuk antre dayclub di Canggu, Joko yang penampilannya skena abis—lengkap dengan kaos oversized pudar dan sepatu bot lokal—malah mendarat di Desa Terunyan dengan OOTD skena-nya.

Dia datang ke pemakaman kuno ini bukan karena penasaran sama deretan tengkorak manusia atau pengen dapet konten mistis. Misi Joko siang itu bener-bener spesifik: dia sedang berburu referensi visual dan tekstur dari kain-kain pembungkus jenazah yang ditinggalkan di sana.

“Gila, ini sih bukan seram lagi hitungannya. Ini murni mahakarya visual yang gak bakal bisa lo temukan di etalase toko modern,” bisik Joko pelan sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.

Lanskap Seni Garapan Alam di Sela Ancak Saji

Begitu memasuki area utama di bawah pohon Taru Menyan, pandangan Joko langsung tertuju pada ancak saji. Ini adalah anyaman bambu berbentuk kerucut yang melindungi jenazah di atas tanah. Di balik celah bambu itu, Joko tidak melihat keseraman, melainkan sebuah mahakarya tekstil yang tidak akan pernah bisa dia temukan di butik-butik mahal Seminyak. Jenazah-jenazah di sini dibalut berbagai jenis kain, mulai dari jarik batik lawas, kain tenun lokal, hingga kain putih polos.

jenazah di bawah pohon taru menyan

Seiring berjalannya waktu, kain-kain ini melewati proses dekomposisi organik bersama alam. Hantaman angin danau yang lembap, rontokan daun purba, dan panasnya cuaca Kintamani perlahan mengubah struktur fisik kain tersebut. Warna batik yang dulunya cerah kini memudar dengan gradasi kelam yang sangat estetik. Serat-serat kainnya terurai alami, menciptakan efek robekan (distressed) dan tekstur rapuh yang bener-bener jujur.

Joko mengamati salah satu sudut kain jarik tua dengan saksama. “Lihat deh motif parangnya, pecah dan pudar karena cuaca secara alami. Pabrik kain secanggih apa pun gak bakal bisa bikin replika washed se-otentik ini,” gumamnya kagum. Bagi Joko yang hobi mengoleksi pakaian reconstructed dan grunge style, pemandangan di depannya adalah sebuah katalog mode masa lalu yang berharga mahal.

Baca Juga : Boeing 737: Sayap yang Terjebak di Sela Dinding Tebing Kapur

Mengadopsi Detail Dekomposisi Organik ke Studio Mode

Joko mulai mengeluarkan kamera sakunya, mengambil beberapa macro shot dari jarak dekat tanpa menyentuh area sakral tersebut. Dia mengamati bagaimana pola motif batik tua di sana pecah secara acak. Juga bagaimana warna cokelat tanah menyatu sempurna dengan sisa pewarna tekstil kuno. Detail-detail robekan alami dan tekstur washed hasil garapan alam ini bakal dia jadikan cetak biru saat kembali ke Solo nanti. Joko berencana menerapkan teknik textile distressing dan pencucian asam (acid wash) buatan di studionya. Semua ini untuk menghasilkan lini pakaian modern yaitu OOTD skena dengan karakter sekuat apa yang dia lihat di Terunyan.

sesi memotret kain kafan untuk ootd skena si joko

“Anak-anak skena di kampus pasti bakal pusing kalau lihat tekstur ini. Gue mau coba aplikasikan detail frayed edge dan gradasi kelam ini ke proyek jaket denim reconstructed gue bulan depan,” ujar Joko sambil mencatat ide di ponselnya. Bagi anak-anak skena yang mengagumi konsep pakaian avant-garde, tekstur yang lahir dari proses penuaan organik seperti ini punya nilai estetika yang jauh lebih tinggi dibanding pakaian pabrikan yang serba rapi dan presisi. Terunyan hari itu sukses mengubah cara pandang Joko tentang sandang dan waktu. Bahwa keindahan pakaian justru bisa mencapai titik tertingginya saat ia mulai luruh dan kembali menyatu dengan tanah.

Baca Juga : Kuburan Bambu Desa Terunyan (The Paradox of Decay)

Pulang dari Terunyan Membawa Sudut Pandang Baru

Matahari Kintamani mulai condong ke barat saat Joko memutuskan menyudahi sesi berburu inspirasinya. Ia akan kembali ke Solo sebagai mahasiswa biasa. Joko pun berjalan ke dermaga. Dia merasa sisa liburan kuliahnya kali ini terasa jauh lebih penuh dibanding sekadar nongkrong di kafe estetik kota besar. Melangkah keluar dari Terunyan membuat Joko sadar bahwa stigma seram sebuah tempat sering kali menutup mata manusia dari potensi kreatif yang ada di dalamnya.

joko akan kembali ke Solo sebagai mahasiswa biasa.

Saat perahu mulai menjauh dari dermaga, Joko memandangi deretan pohon Taru Menyan untuk terakhir kalinya. “Kadang lo harus datang ke tempat paling sunyi dan dilupakan orang cuma buat tahu kalau alam itu desainer terbaik yang pernah ada.” pungkas Joko sambil tersenyum tipis. Dia pulang tidak membawa oleh-oleh foto klise di depan barisan tengkorak, melainkan sekumpulan referensi visual mentah yang bakal jadi modal utama buat obrolan nongkrong dan proyek fashion OOTD skena-nya ke depan.

Baca Juga : Gili Putih Sumberkima: Sebuah Monolog di Ambang Cakrawala


Mau ikut merasakan pengalaman berburu inspirasi nyentrik kayak Joko di Terunyan?

Kalau kamu tertarik buat mengeksplorasi sudut-sudut paling ganjil dan estetik di kawasan Kintamani ini, langsung aja siapkan perjalanannya. Kamu bisa cari pilihan tiket pesawat ke Bali atau pesan hotel dan penginapan terdekat di sekitar Danau Batur lewat Seindo Travel agar trip berburu kontenmu jadi lebih praktis.

Langsung mampir ke situs resmi Seindo Travel buat siapin perjalanan melali kamu berikutnya.

Baca Juga : Satu Ransel, Sejuta Cerita: Seni Menikmati Backpacking Bali dengan Cara Paling Sederhana.

More From Author

boeing 737

Boeing 737: Sayap yang Terjebak di Sela Dinding Tebing Kapur

uang kepeng

Menguak Sejarah Uang Kepeng: Bitcoin Global di Zaman Kerajaan Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *