Senja di Nusa Penida sore itu seperti film yang nggak pengen selesai. Langit jingga tumpah ke laut, pelan-pelan melebur di garis cakrawala. Aku duduk di tebing itu — tempat yang dulu jadi saksi tawa, janji, dan perpisahan yang nggak pernah benar-benar diucapkan.
Dulu, aku nggak pernah mikir bakal datang lagi ke tempat ini sendirian. Tapi hidup kadang lucu, ya? Tempat yang dulu aku datengin buat ketawa, tiba-tiba jadi tempat buat menenangkan diri dari sisa luka.
Tentang Dia dan Senyum yang Gak Pernah Terlupa

Aku masih inget waktu pertama kali kami ke sini. Dia — perempuan yang suka main di pantai atau lihat laut tapi takut kulitnya makin gelap.
Dia bilang, “Kayaknya cuma di sini aku bisa diem tanpa mikirin apa-apa.”
Waktu itu aku hanya senyum tipis tanpa kata, tapi di dalam kepala riuhnya minta ampun.
Dia selalu punya cara aneh buat ngerayain ketenangan. Sementara aku, selalu sibuk berpikir kenapa sesuatu yang tenang justru bikin takut. Tapi mungkin emang gitu ya, beberapa orang datang buat ngajarin kita cara diam, sebelum akhirnya ninggalin kita di tengah sepi.
Baca Juga : Ungasan – Versi Offline dari Bali
Percakapan yang Pelan-pelan Jadi Perpisahan

Kami sempat bicara sore itu. Nggak banyak, tapi cukup buat bikin dada sesak. Angin laut kencang, bawa suara ombak dan aroma asin yang bikin mata terasa panas — bukan karena debu, tapi karena kenangan.
“Kalau nanti aku pergi,” katanya pelan, matanya nggak lepas dari laut,
“Kamu jangan nyari, ya.”
“Bagaimana mungkin? Apa yang kamu bicarakan?” aku berusaha menepis kata-katanya.
Kadang, yang paling berat bukan kehilangan orang, tapi ngebayangin gimana hidup tanpa dia.
Dia pergi sebelum langit benar-benar gelap. Nggak ada pelukan, nggak ada kata selamat tinggal. Hanya langkah kaki yang menjauh, dan suara ombak yang tiba-tiba terdengar lebih keras dari biasanya.
Baca Juga : Di Canggu, Bali Berubah Jadi Playlist Spotify yang Hidup
Beberapa Luka Nggak Perlu Disembuhkan, Cukup Dikenang

Sekarang, di tempat yang sama, aku sadar — bukan dia yang hilang. Tapi bagian dari diriku yang dulu percaya kalau cinta selalu menang.
Matahari pelan-pelan turun ke laut. Cahaya terakhirnya nyentuh kulit, hangat tapi perih. Ada sesuatu yang berubah di dalam diri, sesuatu yang nggak bisa aku jelasin.
Mungkin ini yang disebut ikhlas. Mungkin juga bukan.
Yang jelas, sore itu aku nggak lagi ngerasa kehilangan. Cuma ngerasa tenang. Karena aku tahu, beberapa orang emang ditakdirin buat datang sebagai pelajaran — bukan rumah.
Baca Juga : Ubud – Bukan Hanya tentang Yoga dan Bule dengan Kelapa Muda
Senja yang Masih Menyimpan Nama

Langit mulai gelap. Aku berdiri, nyalain motor, dan sempat nengok sekali lagi ke arah laut. Di kepalaku, suara dia masih jelas, ketawa kecilnya masih nyangkut di udara.
Dan entah kenapa, hati masih percaya — mungkin suatu hari, aku bakal nemuin dia lagi. Tapi bukan di tebing ini. Bukan di Nusa Penida.
Mungkin di tempat lain, dengan versi diri yang udah nggak saling nyakitin lagi.
Baca Juga : Sanur Bali – Sunrise yang Bisa Nyembuhin Hancurnya Hati