Desa Munduk – Kadang, pergi bukan tentang menjauh. Tapi tentang menemukan lagi sesuatu yang sempat hilang di dalam diri.
Itu yang dirasakan I Made Bagasmara, atau Bagas, lelaki 26 tahun yang lahir dan besar di sebuah desa kecil bernama Munduk di Bali Utara.
Setelah beberapa tahun merantau di Jakarta, Bagas akhirnya memutuskan untuk pulang. Bukan karena ada acara keluarga, bukan juga karena liburan. Ia hanya ingin… hilang sebentar dari kota yang tak pernah tidur. Sebuah kota tempat ia mengejar mimpi sambil berlari di tengah hiruk pikuk suara kendaraan dan gedung-gedung yang tinggi.
Tanpa Kabar, Hanya Tiket Pulang
Di Jakarta, Bagas dikenal sebagai orang yang selalu bisa diandalkan. Teman-temannya mengira ia akan menghabiskan akhir pekan dengan mereka seperti biasa.
Tapi minggu itu berbeda. Ia hanya mengajukan cuti ke personalia, memesan tiket ke Bali, dan pergi. Tanpa update story, tanpa pesan ke grup, tanpa jejak digital.
“Kadang, diam itu bukan berarti tak ada apa-apa,” gumam Bagas dalam hati. Ia hanya ingin menepi tanpa harus menjelaskan alasannya ke siapa pun.
Baca Juga : Bali Punya Adik Kecil Bernama Nusa Lembongan
Kabut Pagi yang Tak Pernah Berubah
Pagi pertama di Munduk menyambut Bagas dengan kabut tebal yang turun pelan-pelan dari bukit. Aroma kopi bercampur tanah basah seolah menyapa pulang.
Di beranda rumah, bapaknya sudah duduk sambil menyiapkan dua cangkir kopi hitam.
“Kau akhirnya pulang juga,” kata bapaknya sambil tersenyum. Bagas membalas senyum sang Bapak.
“kamu masih betah di Jawa?” tanya bapaknya.
Bagas mengangguk, “Masih, pak.”
Bagas menahan banyak kata. Ada perasaan yang tak bisa dijelaskan, selain rasa tenang yang merambat pelan.
Baginya, momen itu sudah cukup. Tak ada kalimat yang lebih hangat daripada kopi panas yang diseduh bapaknya sendiri.
Baca Juga : Di Benoa, Bali Tertawa dan Mengernyit Bersamaan
Teman Lama, Tawa yang Sama
Siangnya, Bagas berjalan-jalan di sekitar desa. Beberapa tempat membuatnya teringat masa kecilnya dulu.
“Bagas?!” suara tawa yang ia kenal sejak kecil memanggilnya dari ujung jalan. Teman-teman masa kecilnya berlari menghampiri, membawa cerita yang tak pernah selesai. Jalan tanah yang dulu ia injak kini sedikit lebih rapi, tapi tetap punya aroma yang sama. Aroma rumah.
Mereka tertawa, menertawakan masa lalu, dan mengenang hari-hari ketika hidup belum seberat sekarang.
Di sore harinya, Bagas bersama teman-temannya berjalan ke perkebunan. Menyusuri jalan setapak, melihat kebun cengkeh dan kopi yang menguning, dan mendengar suara air terjun di kejauhan. Semua yang dulu ia anggap biasa, kini terasa begitu berharga. Di sana, di tengah kebun, Bagas sadar, bukan dunia yang berubah. Dirinyalah yang kini melihat segalanya dengan mata berbeda.
Baca Juga : Kuta Itu Kayak Mantan: Kadang Bikin Rindu, Kadang Bikin Macet
Hilang Sejenak, Menemukan Lagi
Tiga hari di desa itu cukup untuk membuat Bagas merasa utuh kembali.
Ia tak membawa banyak oleh-oleh ketika kembali ke Jakarta, kecuali ketenangan yang tak bisa dibeli di mana pun.
Bagas tahu, suatu saat ia akan kembali lagi ke Munduk. Mungkin bukan untuk menghilang, tapi untuk tinggal.
Baca Juga : Saatnya Melipir ke Kerobokan: Oase Sawah, Vila, dan Ketenangan yang Jarang Dilirik
Tentang Munduk, Tentang Pulang
Bagi sebagian orang, Munduk adalah destinasi wisata yang indah dengan perkebunan kopi, air terjun, dan kabut yang menenangkan.
Tapi bagi Bagas, Munduk adalah rumah. Tempat ia belajar bahwa kadang, kita tak perlu alasan besar untuk pulang. Cukup hati yang rindu, dan keberanian untuk menghilang sejenak.
Kalau suatu hari kamu merasa lelah dan ingin hilang sejenak, mungkin Munduk bisa jadi tempatmu menemukan diri lagi. Tak perlu alasan besar, cukup berani untuk pulang.
Baca Juga : Denpasar? Bukannya Cuma Kota Macet?
4 thoughts on “Hilang Sejenak di Munduk – Di Antara Kabut dan Aroma Kopi”