Ia yang Selalu Tersesat
Raka, 25 tahun. Freelancer yang bisa kerja dari mana saja, tapi malah sering tersesat di mana-mana.
Sudah hampir sebulan ia berada di pulau dewata. Niat awalnya: liburan di destinasi Bali, rehat dari kebisingan kota, menyembuhkan apa yang tak sempat ia definisikan.
Tapi seperti yang kita tahu dari kisah sebelumnya—alih-alih menemukan ketenangan, ia justru mendapati dirinya makin asing di tengah hingar bingar tempat-tempat yang viral.
Lelah menjadi turis. Lelah mengikuti arus. Dan lelah jadi manusia yang harus selalu merasa bahagia.

Ia kemudian menepi, ke desa yang tak tercantum di brosur wisata. Bertemu warung sederhana, ibu yang menawarkan air kelapa, dan seorang kakek yang menyuguhkan kopi sambil berkata:
“Destinasi Bali nggak selalu harus sibuk menyambut. Kadang dia cuma pengen ditemui.”
Kata-kata itu masih mengendap di benaknya. Meskipun belum ia pahami betul, tapi sesuatu dalam dirinya berubah sejak saat itu. Seperti embun yang tak pernah benar-benar kering.
Baca Juga : Letusan Gunung Agung 1963 – Luka yang Masih Hangat di Ingatan
Mengatur Tiket Pulang, Tapi Tak Serta Merta Siap Pergi
Beberapa hari setelah pertemuan itu, Raka membuka laptopnya. Ia membuka aplikasi pemesanan tiket, ia mengetik: Denpasar – Jakarta.
Tiket pesawat dipesan. Tapi dalam hatinya, ada bagian yang belum selesai. Masih ada percakapan yang terasa menggantung.

Ia pun kembali ke rumah si kakek mengendarai sepeda motor yang ia sewa. Rumah itu, rumah bambu yang terletak di tepi sawah, dengan atap rendah dan suara jangkrik yang tak pernah berhenti.
Kakek itu tak pernah menyebutkan namanya, namun menyambutnya seolah Raka adalah cucu kandung yang datang setelah lama merantau. Tak banyak tanya, tak banyak basa-basi. Hanya menyiapkan tikar, menyeduh kopi, dan membiarkan malam bercerita sendiri.

Baca Juga : Destinasi Bali untuk yang Lelah Jadi Turis
Tentang Masa Lampau yang Tak Pernah Usai
Selama tiga malam ia tinggal di sana. Tak ada jaringan yang cukup kuat untuk Zoom atau update feed, tapi ia justru merasa lebih terhubung dengan dunia.
Mereka berbincang di bawah langit penuh bintang. Tentang zaman penjajahan dan rumah-rumah yang dibakar tentara. Tentang banjir besar yang pernah menenggelamkan ladang. Gunung yang pernah memuntahkan lahar. Tentang bagaimana tanah bisa memberi banyak, tapi juga mengambil tiba-tiba.
“Dulu, di sini hanya suara angin dan doa. Sekarang… kadang saya tak paham lagi dunia mau ke mana,” ujar si kakek suatu malam.

Raka hanya mendengarkan. Ada rasa bersalah dalam dirinya—ia datang ke Bali untuk mencari ketenangan, tapi justru menemukan luka-luka yang sudah lama dikubur.
Setiap malam, Raka duduk di tikar pandan, mendengarkan kisah dari masa lampau yang tak pernah ia temukan di buku sejarah. Kakek itu bercerita bukan seperti pemandu wisata, tapi seperti seseorang yang menjaga ingatan tanah ini agar tak hilang dimakan waktu.
Baca Juga : Gunung Payung – Di Balik Tebing dan Sunyi Pantai Selatan
Malam Terakhir dan Hujan yang Menyala Diam
Malam sebelum kepulangan, hujan turun deras. Angin memukul-mukul jendela bambu. Listrik padam.
Tapi si kakek tenang saja. Ia mengambil korek tua dan menyalakan pelita kecil dari rak kayu tua di tengah ruang.

Cahaya kuning redup itu menggantikan lampu, dan seolah mengubah suasana jadi masa lalu.
“Kalau nanti kamu pulang… jaga baik-baik yang kamu bawa dari sini,” ucap si kakek pelan.
Raka tidak paham apa maksudnya. Tapi malam itu terasa seperti dunia yang enggan berakhir.
Mereka tak banyak bicara. Hanya duduk berdampingan, mendengar hujan, dan membiarkan waktu mengendap perlahan.
Baca Juga : Tanah Lot – Laut, Batu, dan Doa yang Tak Pernah Usai
Di Atas Langit, Ada Rindu yang Tak Sempat Diucapkan
Esok harinya saat senja turun, Raka pamit.
Si kakek mengantarnya sampai di pinggir jalan tanah. Mereka saling diam sesaat, lalu berpelukan singkat—hangat tapi berat.
“Kalau balik ke sini, jangan jadi turis ya. Jadi cucu aja,” kata si kakek sambil tersenyum kecil.
Raka mengangguk. Lalu berjalan pergi. Kepalanya penuh, tapi hatinya ringan.

Langit semakin menguning, redup. Perlahan kaki Raka melangkah pergi meninggalkan si Kakek yang tampak menyembunyikan hujan yang turun di atas pipinya.
Di pesawat menuju Jakarta, ia membuka ransel. Mencari powerbank. Tapi yang ia temukan justru sesuatu di saku tersembunyi:
secarik kertas dan benda terbungkus kain abu-abu.
Nak Raka, di usia senja ini kakek masih memiliki banyak harapan dalam hidup. seperti arloji tua yang kakek beri untuk kamu ini. Lihatlah, jarumnya masih berputar tanpa henti meski sudah terlampau tua. Waktu terus bertambah dan berubah, namun jangan sampai kita ikut berubah dan kehilangan jati diri yang sebenarnya. Simpanlah baik-baik nak Raka. Semoga bersama arloji ini berputar, waktu mengizinkan kita kembali bertemu.
Hatinya gugup namun hangat setelah membaca tulisan itu. Ia membuka bungkusan kain itu perlahan.
Sebuah sebuah arloji klasik, tampak lusuh namun khas karena jarang ia jumpai.
Jarum jamnya bergerak lambat, seperti waktu di desa tempat ia terakhir menginap.
“Kakek..” Raka bergumam pelan.
Raka menghela napas panjang.
Di dalam pesawat yang melaju menuju Jakarta, dadanya terasa penuh. Tapi bukan oleh beban, melainkan rasa yang sulit dijelaskan—seperti rindu, tapi bukan untuk seseorang; untuk suasana, untuk pelukan singkat, untuk percakapan tanpa agenda.

Ia menatap arloji itu sekali lagi. Waktu terus berjalan. Tapi hari itu, ia tahu, ada sebagian dari dirinya yang sengaja ditinggal di destinasi Bali.
Bukan sebagai turis.
Tapi sebagai seseorang yang akhirnya tahu: pulang tak selalu harus ke tempat asal, tapi ke tempat di mana hatimu pernah diam tanpa perlu alasan.
5 thoughts on “Destinasi Bali untuk yang Lelah Jadi Turis – [Part II]”