“Bro, sinyalnya ilang.”
“Baguslah.”
Itu kalimat yang keluar spontan waktu gue duduk di warung kopi kecil di pinggir jalan Ungasan. Dari meja kayu yang udah mulai miring, gue bisa liat laut jauh di bawah sana. Nggak terlalu jelas, tapi cukup buat ngerasa damai. Kadang, ketenangan itu cuma butuh sedikit gangguan sinyal.
Nama gue Dita Laras, budak corporate di kota Jakarta. Dunia gue penuh notifikasi, email, dan chat yang selalu minta dibales “segera”. Sampai akhirnya, gue sadar: yang paling jarang gue denger bukan musik, tapi suara hati sendiri.
Liburan kali ini gue terbang ke Bali, dan salah satu daerah yang gue kunjungi itu Ungasan. Ungasan bukan kayak Canggu yang sibuk banget sama kafe estetik dan laptop-laptop terbuka. Bukan juga kayak Kuta yang tiap sudutnya kayak arena festival. Di sini, gue masih bisa denger ayam berkokok pas sore, masih bisa ngeliat bapak-bapak nongkrong tanpa ponsel di tangan. Dan mungkin itu yang bikin gue betah.
Baca Juga : Di Canggu, Bali Berubah Jadi Playlist Spotify yang Hidup
Tempat yang Nggak Sibuk Jadi Apa-apa
Gue nyewa motor dari Denpasar, cuma butuh 40 menitan ke sini. Tapi anehnya, begitu masuk kawasan Ungasan, suasananya langsung berubah. Jalanan lebih sepi, udara lebih kering, dan orang-orangnya lebih santai.

Ada satu momen pas gue berhenti di depan pura kecil di pinggir jalan. Seorang ibu-ibu senyum sambil bawa sesajen. Gue tanya pelan, “Bu, ini pura apa?”
Dia jawab, “Pura kecil aja, Nak. Buat ngatur hati.”
Gue diem. Di dunia yang kebanyakan notifikasi, ternyata masih ada yang nyari cara buat ngatur hati — bukan ngatur konten.
Baca Juga : Ubud – Bukan Hanya tentang Yoga dan Bule dengan Kelapa Muda
Kopi, Angin, dan Cerita yang Nggak Viral
Di satu sore, gue mampir ke warung yang katanya terkenal di kalangan warga lokal. Namanya nggak ada di Google Maps. Cuma papan kayu lusuh bertuliskan “Kopi Panas, Es Teh, Gorengan”.

Pemiliknya, Pak Gusti, bilang, “Sekarang orang-orang datang ke Bali buat tenang, tapi mereka sibuk nyari spot yang ramai.”
Gue ketawa. “Iya, Pak. Mungkin tenang tuh nggak menarik di kamera.”
Dia ikut ketawa. “Tapi tenang tuh bisa dirasain, Nak. Bukan difoto.”
Dari situ gue sadar, Ungasan bukan tempat buat jadi bahan posting. Ini tempat buat diem sebentar, ngatur napas, dan sadar kalau gue nggak harus terus online buat tetap hidup.
Baca Juga : Sanur Bali – Sunrise yang Bisa Nyembuhin Hancurnya Hati
Kadang Kita Cuma Butuh Hilang Sedikit
Menjelang sore, gue duduk di tebing sambil liatin langit berubah warna. Angin laut nyenggol pelan rambut gue yang berantakan. Di bawah sana, ombak pecah di karang. Indah, tapi nggak ada yang ngerekam.

Dan mungkin, justru itu yang bikin moment-nya lebih berharga.
Bali masih punya sisi yang nggak sibuk jadi sorotan.
Ungasan, mungkin salah satunya.
Jadi, kalau lo ngerasa dunia terlalu berisik, coba deh ke sini.
Matikan notifikasi, nyalain perasaan.
Baca Juga : Hard Rock Hotel Bali: Antara Musik, Pantai, dan Euforia Malam
Bali nggak selalu tentang pesta dan pantai ramai. Kadang, tempat paling berharga justru yang nggak banyak orang tahu. Yuk, kenali sisi lain Bali seperti Ungasan—dan rasain tenang yang nggak bisa lo temuin di feed mana pun.