pererenan bali

Pererenan, Destinasi Bali untuk Yang Lelah Jadi Turis [Part III]

Pererenan Bali — Raka, 25 tahun. Freelancer yang bisa kerja dari mana saja, tapi malah sering tersesat di mana-mana.
Sudah dua bulan ia berada di Bali. Niat awalnya hanya sepekan, tapi waktu terasa lunak dan sulit dibentuk di pulau ini. Ia sudah melewati fase jadi turis yang menjelajah, lelah, lalu mencari sunyi. Tapi seperti kata si kakek di desa itu—Bali tidak selalu harus menyambut, kadang ia hanya ingin ditemui.

Kali ini, langkah Raka membawanya ke Pererenan. Bukan karena rekomendasi travel influencer atau video reels 15 detik. Tapi karena seseorang di warung kopi menyebut satu kalimat yang terus terngiang:

“Kalau kau ingin melihat Bali yang tidak sedang berdandan, datanglah ke Pererenan.”

Pererenan Desa yang Tak Tergesa

Pererenan bukan tempat yang mengejutkan. Ia tidak seperti tempat wisata yang ramai dan mendesak untuk dilihat.
Tapi justru di situlah letak keindahannya.

canggu beach hostel - pererenan
canggu beach hostel – pererenan

Raka menyusuri jalan-jalan kecil yang diapit sawah dan pura. Beberapa villa dan bar memang sudah berdiri, tapi entah kenapa suasananya tetap terasa ringan. Masih ada bunyi jangkrik di sore hari. Masih ada suara gamelan dari rumah warga.

Ia menginap di rumah kayu kecil yang dikelilingi pohon pisang dan suara ayam. Di malam hari, lampu temaram menyala di beranda. Seorang ibu tua menyuguhkan teh hangat dan pisang goreng sambil bertanya,

“Kamu dari Jakarta ya? Kelihatan dari matamu. Lelah.”
Raka tertawa kecil. Tak menyanggah.

Baca Juga : Sangeh Monkey Forest — Gerbang Menuju Dunia Ribuan Kera

Pererenan Tak Seheboh Canggu, Tapi Lebih Diterima

Pererenan memang dekat dengan Canggu, tapi seperti punya cara sendiri untuk menjaga jarak dari hingar bingar.
Infrastruktur di sini lengkap: jalan mulus, penginapan banyak, tempat makan ramah kantong, bahkan warung kopi yang enak buat kerja. Tapi ada yang tidak dimiliki tempat lain: rasa diterima.

senja di pantai pererenan
senja di pantai pererenan

Di satu sore yang sendu, Raka duduk di pinggir Pererenan Beach, memperhatikan siluet peselancar di kejauhan pantai. Ia merasa seperti berada di tengah-tengah; antara desa dan dunia.
Di sinilah tempat yang tidak memaksamu jadi siapa-siapa.

Baca Juga : Bintang Supermarket Seminyak: Panduan Lengkap Belanja Hemat di Bali!

Lukisan dan Surat Tak Bernama

Ada satu titik di pantai, tak jauh dari batu karang, di mana ia bertemu seorang seniman jalanan—seorang muralis lokal. Namanya Tyo, lelaki berumur 30-an dengan rambut diikat dan tangan penuh cat.
Mereka duduk bersama, saling diam. Tyo lalu berkata,

pererenan beach
pererenan beach

“Aku tidak melukis untuk dibeli. Aku melukis untuk tidak lupa. Pererenan, suatu hari mungkin akan berubah. Tapi setidaknya, aku pernah mengabadikan sunyinya.”

Baca Juga : Balangan Beach Bali – Saat Laut Bicara Perlahan

Bali yang Tidak Dibisniskan

Bali tidak hanya soal destinasi yang fotogenik. Pererenan mengajarkan Raka bahwa kadang, yang kita butuhkan bukan tempat wisata, tapi tempat untuk duduk dan bernapas.
Udara di sini terasa lebih ringan. Mungkin karena jarang dicampur nafas-nafas dari ribuan turis dalam satu detik.

the double view mansions bal
the double view mansions bali – pererenan

Budaya di desa ini masih hidup berdampingan dengan modernitas. Tradisi dan upacara tetap berjalan tanpa menjadi tontonan. Warga tersenyum bukan karena dibayar, tapi karena mereka benar-benar ramah.
Raka menyadari, Pererenan bukan hanya tempat, tapi jeda.

Baca Juga : Rumah Bali – Arsitektur, Rahasia, dan Ritual yang Tak Terlihat

Kembali ke Jalan, Tapi Tidak Sama Lagi

Malam terakhir di Pererenan Bali, Raka menuliskan beberapa kalimat di jurnal kecilnya:

“Di tempat ini, aku tidak menemukan jawaban. Tapi aku menemukan ruang untuk diam. Dan itu lebih dari cukup.”

Esoknya, ia berkemas. Tidak terburu-buru. Tidak tergesa.
Ia tahu, setelah ini, ia akan kembali ke dunia yang sibuk. Tapi setidaknya, ia pernah singgah di sebuah tempat bernama Pererenan—sebuah destinasi Bali untuk yang lelah jadi turis.

Baca Juga : Destinasi Bali untuk yang Lelah Jadi Turis – [Part II]


Kamu pengen berkunjung ke Parerenan dan menulis catatan kecil tentang perjalanan yang menemukan ruang untuk diam? Temukan tiket pesawat termurah ke Bali dan promo hotel yang ramah di kantong hanya di Seindo Travel.

More From Author

sangeh monkey forest

Sangeh Monkey Forest — Gerbang Menuju Dunia Ribuan Kera

suluban beach bali

Tersembunyi di Bawah Karang – Suluban Beach Bali

2 thoughts on “Pererenan, Destinasi Bali untuk Yang Lelah Jadi Turis [Part III]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *