a day in my life

A Day in My Life ~ Catatan Kecil Tentang Menjadi ‘Ada’ di Bali

Banyak orang datang mencari hiburan, namun bagiku, menjalani a day in my life adalah tentang menemukan kembali bagian diri yang hilang di tengah hiruk-pikuk dunia. Bali adalah sebuah jeda panjang yang memberikan izin bagi siapa pun untuk berhenti menjadi “siapa-siapa” dan mulai belajar menjadi “ada”. Ini bukan sekadar catatan perjalanan, melainkan sebuah fragmen waktu tentang bagaimana pulau ini menyembuhkan hal-hal yang bahkan tidak aku sadari bahwa aku sedang terluka.

06:30 AM ~ Fajar yang Berbisik di Sidemen

Aku terbangun bukan oleh suara alarm yang menuntut, melainkan oleh simfoni alam yang jujur. Hari dimulai di Sidemen, tempat di mana waktu seolah berhenti berdetak. Di Sidemen, pagi tidak pernah terburu-buru. Mendapatkan vibe sunrise yang sempurna adalah ritual pertama dalam a day in my life kali ini. Kabut tipis masih menyelimuti lembah, seperti selimut kapas yang enggan beranjak dari punggung sawah yang menghijau.

a day in my life with sedemen

Aku melangkah keluar, merasakan embun yang masih dingin menyentuh telapak kaki. Ada aroma dupa yang baru saja dinyalakan, bercampur dengan aroma tanah basah dan kopi Bali yang kuat. Di momen ini, aku tidak memikirkan hari esok atau menyesali hari kemarin. Aku hanya berdiri di sana, menghirup udara yang murni, dan menyadari bahwa bernapas adalah sebuah kemewahan yang seringkali aku abaikan. Di sini, aku mulai merasa “ada”.

Baca Juga : Luna Beach Club: Simfoni Bambu dan Imajinasi di Ujung Tebing Nanyi

11:00 AM ~ Mengalir di Antara Jalanan Kecil

Siang hari adalah tentang membiarkan diri “tersesat” dengan sengaja. Aku memacu motor melintasi jalanan kecil di Gianyar, di mana pohon-pohon kamboja menjatuhkan bunganya dengan pasrah di atas aspal. Tidak ada destinasi akhir, karena di Bali, perjalanannya adalah tujuan itu sendiri.

irigasi sawah

Aku berhenti di sebuah warung lokal di pinggir sawah. Menikmati sepiring nasi campur dengan sambal matah yang segar, sambil mendengarkan gemericik air irigasi. Tidak ada notifikasi email, tidak ada tenggat waktu yang mengejar. Hanya aku, sepiring makanan yang dibuat dengan rasa, dan pemandangan hijau yang membentang luas. Bali mengajarkan bahwa kebahagiaan seringkali bersembunyi di balik hal-hal yang paling sederhana, asalkan kita mau hadir sepenuhnya di sana.

Baca Juga : Echo Beach Canggu: Cahaya Sore yang Membasuh Lelah di Ujung Canggu

17:30 PM ~ Larung Lelah di Pesisir Nanyi

Menuju senja, petualangan a day in my life membawaku ke pesisir Nanyi, dekat dengan struktur bambu Luna Beach Club yang futuristik namun membumi. Di sini, cahaya matahari terbenam tidak hanya membasuh permukaan laut, tapi juga meluruhkan sisa-sisa amarah dan kecemasan yang selama ini mengkristal di dada.

a day in my life ~ beach

Aku duduk di atas pasir yang masih menyimpan sisa hangat matahari, menatap bagaimana ombak besar pecah dengan suara dentuman yang repetitif dan meditatif. Langit berubah menjadi kanvas pastel yang dramatis—ungu, jingga pekat, dan emas. Di momen transisi ini, aku merasa seolah Bali sedang memelukku, membisikkan bahwa tidak apa-apa untuk tidak menjadi sempurna. Bahwa menjadi “ada” dan merasa damai dengan diri sendiri adalah pencapaian tertinggi.

Baca Juga : Tegalalang Rice Terrace: Pelarian Arka dari Cacofoni Kota Menuju Frekuensi Murni

21:00 PM ~ Epilog di Bawah Langit Dewata

Hari ditutup dengan kesunyian yang padat. Kembali ke penginapan ditemani suara jangkrik dan aroma melati yang memenuhi udara malam. Aku menutup catatan a day in my life ini dengan satu kesadaran: pulau ini tidak pernah berubah, kitalah yang berubah saat bersamanya.

langit bali malam hari - a day in my life

Sehari di Bali bukan tentang berapa banyak tempat yang kita kunjungi, tapi tentang seberapa banyak bagian dari jiwa kita yang berhasil kita temukan kembali. Pulang dari sini, aku membawa hati yang sedikit lebih lapang dan memori tentang cahaya yang pernah membasuh lelahku dengan begitu lembut. Hari ini, aku telah menjadi “ada”.

Baca Juga : Tegalalang: Saat Tanah Menjadi Kanvas dan Petani Menjadi Seniman

More From Author

luna beach club

Luna Beach Club: Simfoni Bambu dan Imajinasi di Ujung Tebing Nanyi

backpacking bali

Satu Ransel, Sejuta Cerita: Seni Menikmati Backpacking Bali dengan Cara Paling Sederhana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *